SLEMAN — Semangat membangun kemandirian umat terus ditumbuhkan dari tingkat ranting. LAZISMU Karanganyar bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bancak melaksanakan studi tiru ke Jamal Farm, Sleman, untuk mempelajari pengembangan pertanian produktif, khususnya budidaya nanas jumbo. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menghadirkan model pemberdayaan ekonomi yang dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat Bancak. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya melihat langsung proses budidaya nanas, tetapi juga menggali berbagai pengalaman mengenai pengelolaan pertanian agar mampu berkembang menjadi usaha produktif dan berkelanjutan.
Di lokasi pertanian, rombongan yang berjumlah 21 orang mempelajari sejumlah tahapan penting, mulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit, pola tanam, pemeliharaan tanaman, hingga pengembangan hasil panen dan peluang pemasarannya. Muhammad Isnan, Divisi Program LAZISMU Karanganyar menyampaikan studi tiru tersebut sejalan dengan semangat pendayagunaan zakat, infak, dan sedekah melalui program-program produktif. “ Filantropi tidak hanya diarahkan untuk memberikan bantuan sesaat, tetapi juga diupayakan menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat,” ungkapnya. Kolaborasi dengan PRM Bancak menjadi bagian penting dalam ikhtiar tersebut. Setelahnya sebelumnya bekerja sama terkait dengan pemanfaatan lahan produktif untuk budidaya alpukat. Keberadaan ranting Muhammadiyah sebagai struktur persyarikatan yang paling dekat dengan masyarakat memiliki posisi strategis untuk mengembangkan berbagai program yang berangkat dari potensi lokal. Dari Pertanian Menuju Kemandirian Pengembangan nanas jumbo menjadi salah satu potensi yang dipelajari karena memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas pertanian bernilai ekonomi. Melalui studi tiru di Jamal Farm, PRM Bancak bersama LAZISMU Karanganyar ingin mendapatkan gambaran yang lebih utuh sebelum mengembangkan program serupa.
Tidak hanya terkait teknis budidaya, tetapi juga menyangkut kesiapan sumber daya manusia, pengorganisasian masyarakat, penguatan kelompok tani, serta keberlanjutan usaha setelah program berjalan. Semangat tersebut menjadi penting karena pemberdayaan bukan sekadar menanam dan menghasilkan panen. Lebih jauh, pemberdayaan diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat sehingga manfaat program dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan. Jika potensi tersebut dapat dikembangkan secara optimal, budidaya nanas jumbo diharapkan menjadi salah satu embrio gerakan ekonomi produktif di tingkat ranting. Perkuat Ranting Menuju CRM Award Selain menjadi ruang belajar pemberdayaan pertanian, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya PRM Bancak mempersiapkan diri dalam agenda Cabang dan Ranting Masjid (CRM) Award, khususnya pada kategori Ranting Unggulan. Persiapan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mengikuti penilaian, tetapi menjadi momentum untuk semakin menghidupkan gerakan Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Ranting unggulan diharapkan tidak hanya kuat dalam aspek administrasi dan kegiatan organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan program nyata yang memberikan manfaat kepada jamaah dan masyarakat sekitar. Karena itu, penguatan sektor ekonomi dan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ranting yang aktif, mandiri, serta memiliki daya manfaat. Studi tiru ini sekaligus memperlihatkan bahwa masjid dan ranting Muhammadiyah dapat menjadi pusat gerakan yang lebih luas. Selain menjalankan fungsi dakwah dan pembinaan keagamaan, keduanya dapat tumbuh sebagai pusat pendidikan, sosial, konservasi lingkungan serta pengembangan ekonomi masyarakat. Sinergi Filantropi dan Persyarikatan Sinergi antara LAZISMU Karanganyar dan PRM Bancak diharapkan menjadi model kolaborasi antara lembaga filantropi Muhammadiyah dengan struktur persyarikatan dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Dana umat yang dihimpun melalui zakat, infak, dan sedekah dapat diarahkan menjadi program produktif, sementara ranting menjadi penggerak sekaligus pendamping masyarakat di tingkat lokal. Dari proses belajar di Jamal Farm tersebut, langkah berikutnya adalah menerjemahkan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh menjadi rencana aksi yang sesuai dengan karakter dan potensi wilayah Bancak.
Mulai dari pemetaan lahan, kesiapan calon penerima manfaat, penguatan kelompok, penyediaan bibit, pendampingan budidaya, hingga pengembangan pasar menjadi bagian yang perlu dipersiapkan secara bertahap. Studi tiru ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kunjungan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi titik awal bagi lahirnya gerakan pemberdayaan pertanian yang tumbuh dari ranting, dikelola bersama masyarakat, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan. Dari Bancak menuju Sleman, semangat yang dibawa adalah semangat untuk belajar. Dari Sleman kembali ke Bancak, semangat itu diharapkan berubah menjadi gerakan nyata untuk memakmurkan ranting, memberdayakan masyarakat, dan menguatkan kemandirian umat.